Film action thriller kriminal terbaru, Blackhat begitu menarik perhatian, terutama bagi penggemar film di Indonesia. Tak hanya film ini mengisahkan aksi terorisme dunia maya yang dekat dengan keseharian sekarang, tetapi juga salah satu lokasi syutingnya adalah di Jakarta, Indonesia. Film arahan Michael Mann (Collateral, Public Enemies) ini memang mencoba menggambarkan kejahatan cyber skala global. Selain Indonesia, film ini juga “jalan-jalan” ke Hong Kong dan Malaysia, dengan pemain lintas bangsa.

Sebuah ledakan di pembangkit nuklir di Hong Kong disinyalir dilakukan oleh seorang hacker. Selain sulit menemukan dalangnya, pihak berwajib juga tak menemukan motif dibalik serangan ini. Tak berapa lama, harga komoditas kedelai di pasar saham Amerika Serikat dikacaukan oleh hacker yang sama. Seorang agen dari China, Chen Dawai (Wang Leehom) ditugaskan kerja sama dengan pihak FBI untuk memecahkan kasus ini. Namun, Chen meminta satu syarat, yaitu menyertakan ahli komputer, Nicholas Hathaway (Chris Hemsworth).

Masalahnya, Hathaway adalah seorang hacker yang tengah menjalani masa hukuman di penjara. Dengan kebebasan sebagai taruhannya, Hathaway bersedia menyelidiki kasus ini. Hathaway dan Chen didukung oleh agen FBI Carol Barrett (Viola Davis) dan Mark Jessup (Holt McCallany), juga adik dari Chen, Lien (Tang Wei). Kasus ini membawa mereka untuk melacak berbagai tempat, dari Chicago, Los Angeles, Hong Kong, Perak, hingga Jakarta. Penyelidikan mereka pun mengarah pada sebuah konspirasi yang dirancang dengan sangat rapi sekaligus membahayakan.

TERINSPIRASI KASUS NYATA

Rilisnya Blackhat seakan mewakili gambaran keadaan dunia saat ini, ketika internet menjadi bagian dari keseharian, dan kejahatan cyber bukan lagi mitos. Baru beberapa bulan yang lalu, sekelompok hacker meretas perusahaan film Sony Pictures dan membocorkan dokumen rahasia ke publik, bahkan membuat ancaman teror. Sebelumnya, mantan analis intelijen AS, Edward Snowden mengungkapkan bahwa badan intel AS memata-matai lewat alat-alat komunikasi, termasuk terhadap warga AS sendiri. Sebelumnya juga, ada keresahan yang timbul ketika situs WikiLeaks membocorkan dokumen rahasia banyak negara.

Mann sendiri mulai merancang cerita Blackhat setelah mendengar sebuah kasus serangan cyber yang cukup besar di tahun 2010. Sebuah worm yang disebut Stuxnet ditemukan sebagai malware yang mampu membuat pengendalian pembangkit nuklir berada dalam kuasa hacker. Saat itu, yang terkena serangan adalah alat centrifuge (pemusing) di pembangkit nuklir di Iran, dan belum terungkap secara resmi siapa dalangnya.

Dari sana, Mann—yang memang sering menggarap tema kriminal, kemudian mencoba membuat sebuah kisah tentang kejahatan dunia maya. Bersama penulis skenario Morgan Davis Foehl, Mann melakukan serangkaian penelitian yang rinci tentang bidang ini, mulai dari pihak pemerintahan sampai ke para hacker sendiri. “Jika kita mau membuat film tentang pencuri, jangan menonton film lain tentang pencuri. Tapi, pergilah dan nongkrong dengan para pencuri betulan,” ujarnya.

Mann kemudian menyimpulkan betapa kompleksnya kejahatan maya dan besarnya dampak yang ditimbulkannya. Namun, di lain pihak, itu semua luput dari perhatian sebagian besar masyarakat. “Segala yang kita lakukan, segala yang kita sentuh, adalah bagian dari jejaring yang besar. Itu bagaikan kita tinggal di sebuah rumah dan semua pintu dan jendelanya terbuka dan berada di lingkungan yang berbahaya, tetapi kita sama sekali tidak menyadarinya,” ungkap Mann.

KLIMAKS DI JAKARTA

Dari hasil riset tersebut, Mann menemukan bahwa kejahatan cyber bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja. Untuk itulah, ia kemudian merancang konsep film Blackhat sebagai thriller kriminal lintas negara, meskipun awal aksi ini dimulai di Amerika Serikat. Untuk mencapai hasil maksimal, Mann dan timnya juga melakukan syuting langsung di negara-negara bersangkutan, termasuk Indonesia.

“Dari Hong Kong, mereka pergi ke Malaysia dan pada akhirnya ke jantung kota Jakarta, yang adalah sebuah tempat hiruk pikuk berisi 20 juta orang di waktu siang, dan 10 juta orang di waktu malam, karena 10 juta lainnya nglaju untuk bekerja setiap hari. Jadi terasa seperti Chicago. Tetapi, kota ini juga terasa asing karena punya kultur yang spesifik, dan ada banyak ragam kultur di Indonesia,” ungkap Mann.

Untuk keperluan itu, Mann kemudian memboyong kru dan para pemainnya, termasuk Hemsworth dan Tang Wei langsung ke Jakarta sekitar tahun 2013 lalu. Pelabuhan Sunda Kelapa, kawasan Kemayoran, hingga Tanah Abang pun dipilih sebagai lokasi syutingnya. Namun, tak hanya sekedar meminjam ruang dan pemandangan, Mann juga membangun beberapa set dan situasi khusus untuk film ini. Yang terbesar adalah sebuah adegan festival budaya Bali di Lapangan Banteng. Untuk adegan ini, dikerahkan sekitar 3000 penari lokal dalam kostum khusus.

“Kita beranjak dari dunia digital dan teknikal ke sebuah upacara tradisional yang telah berusia panjang. Banyak orang yang belum pernah melihat yang seperti ini, khususnya dalam skala yang diciptakan Michael lewat ribuan extras, pakaiannya, penarinya, patung besar; indah sekali,” ungkap Hemsworth tentang adegan yang dilakoninya di Jakarta.

Blackhat kini sudah bisa disaksikan di bioskop-bioskop Indonesia. Simak trailer-nya di bawah ini.

Pameran Seni Tunggal Agus Kama Loedin “Trans-Forms #3”

ONE Championship Kembali ke Jakarta

WE THE FEST 2017 Siap Ramaikan Jakarta Agustus Nanti!

Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Lukisan Yang Dicoret

Photo Gallery: Magnitude Hammersonic 2017

Photo Gallery: Yellow Claw X Moet & Chandon