“Sevenfold! Sevenfold!” Teriak ribuan penonton yang memadati Parkir Timur Senayan, Minggu, 18 Januari 2015. Teriakan makin membahana begitu muncul logo tengkorak bersayap kelelawar pada layar jumbo di atas panggung. Sang bintang, Avenged Sevenfold, langsung menggebrak dengan lagu pertama mereka, Shepherd of Fire, dilanjutkan dengan Critical Accalaim.

Digelar oleh promotor Dyandra Entertainment, ini adalah konser ketiga Avenged Sevenfold di Indonesia. Sebelumnya, band dari Amerika Serikat ini pernah tampil di Indonesia pada 2007 dan 2008.

Pada 2012, mereka sebenarnya akan menggelar konser di Indonesia, namun batal di detik-detik terakhir, karena alasan Indonesia dinilai kurang aman. “Ada beberapa insiden yang sangat disayangkan ketika terakhir kali kami ke sini. Namun malam ini, kami akan membayarnya,” ujar M. Shadows, sang vokalis.

Tak heran, M. Shadows, gitaris Synyster Gates dan Zacky Vengeance, basis Johnny Christ, serta drummer Arin Ilejay langsung tampil pol-polan dalam konser yang berlangsung selama sekitar dua jam tersebut.

Performa vokal M. Shadows terbilang prima, meskipun selama seminggu lalu Avenged Sevenfold tampil maraton di Korea Selatan, HongKong, dan Taiwan. Begitu pun dengan lead guitarist Synyster Gates, yang mengawal melodi lagu-lagu Avenged Sevenfold dengan mulus. Ia bahkan sempat melakukan gitar solo dengan permainan jari yang cepat. Adapun anggota terbaru band ini, Arin Ilejay, dengan energik mengisi peran The Rev, drummer yang identik dengan nama Avenged Sevenfold, yang meninggal 2009 silam.

Mereka cukup banyak membawakan lagu dari album terakhir mereka, Hail to the King, antara lain Shepherd of Fire, Hail to the King, This Means War, dan Acid Rain. Mereka juga membawakan dari album sebelumnya, seperti Nightmare, Beast and the Harlot, Almost Easy, serta lagu bernuansa balad, Seize the Day.

M. Shadows termasuk rajin berkomunikasi dengan penonton di antara jeda lagu. “Kudengar kalian sudah ada di sini sejak pagi. Memangnya kalian sekarang masih punya tenaga untuk melanjutkan konser ini?” tanya M. Shadows yang dibalas sorakan penonton. Tak jarang, ia juga mengajak penonton ikut bernyanyi atau mengayunkan tangan ke udara, sehingga pertukaran energi antara sang bintang dan penonton tetap intens terjaga.

Mendekati pukul sepuluh malam, kelima anggota band ini menghilang di balik panggung yang menggelap. Penonton yang paham tanda-tanda ini, sontak memanggil mereka untuk melakukan encore. Avenged kembali naik, memainkan dua lagu ‘wajib’ mereka, Bat Country dan Unholy Confession. Setelah itu, mereka kembali ke belakang panggung.

Belum puas, penonton kembali meminta encore. Avenged Sevenfold kembali dengan lagu pamungkas, A Little Piece of Heaven. Sadar bahwa ini adalah potongan konser terakhir, penonton makin bersemangat berjingkrak dan bernyanyi mengikuti mengikuti lagu dengan sentuhan orkestra ini.

Pukul sepuluh malam lewat seperempat, lampu stadiun dinyalakan, dan lagu Across the Universe milik The Beatles membahana lewat pengeras suara, tanda konser malam itu telah berakhir. Namun sisa-sisa adrenalin ternyata masih membakar semangat sebagian penonton, yang tetap meneriakan nama Avenged Sevenfold, ketika keluar arena konser.

Pameran Seni Tunggal Agus Kama Loedin “Trans-Forms #3”

ONE Championship Kembali ke Jakarta

WE THE FEST 2017 Siap Ramaikan Jakarta Agustus Nanti!

Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Lukisan Yang Dicoret

Photo Gallery: Magnitude Hammersonic 2017

Photo Gallery: Yellow Claw X Moet & Chandon