Baru sepekan mendatang film ‘Di Balik 98’ akan tayang di bioskop, tetapi pro dan kontra telah menghujani dan menjadi sorotan dari berbagai kalangan. Khususnya para aktivis 98.

Berulang kali Lukman yang baru saja mengawali debutnya sebagai sutradara mengatakan bahwa film ini hanya mengangkat sisi humanis, bukan film sejarah apalagi soal politik.

“Selama ini orang-orang masih terkecoh dengan potongan-potongan trailer dari film ini yang akhirnya membuat sebuah opini publik yang tidak sesuai. Makanya mendingan tonton dululah filmnya. Toh, filmnya juga belum tayangkan. Pastinya, dalam film ‘Di Balik 98’ ini gue mau bicara tentang apa yang terjadi pada kondisi manusia-manusianya pada saat tragedi Mei itu. Tapi bukan tentang tragedinya yang identik dengan kekerasan,” ucap aktor yang mengaku menjadi sutradara merupakan salah satu obsesinya sejak lama.

“Pada dasarnya film ini menceritakan drama keluarga, percintaan dan humanisme tapi dilatarbelakangi dengan suasana pada saat tragedi Mei 98,” tambah Verdi Soelaiman yang berperan sebagai seorang staf dapur Istana Negara.

“Gue belum pernah menjadi sutradara film panjang. Lantas, tiba-tiba disodorin film ‘Di Balik 98’ dari penulis skenarionya Samsul Hadi dan Ifan Ismail yang memang awalnya terdengar sensitif dan ini merupakan sebuah tantangan. Tapi gue pun mencoba mencari akal dengan mengambil dari sisi humanis bukan dari sisi politik,” ungkap Lukman.

“Selama ini setiap orang kalau mendengar kata 98 pastinya langsung berekspektasi, wah, tentang tragedi para aktivis. Tapi kita juga harus ingat bahwa di tahun 1998 tidak hanya terjadi peristiwa tersebut, setiap orang memiliki history-nya masing-masing. Bisa saja film ‘Di Balik 98’ ini merupakan versi kehidupan gue di tahun 98,” lanjut putra dari maestro biola, alm. Idris Sardi ini.

Tapi Lukman tak bisa memungkiri bahwa peristiwa yang paling fenomenal dan memberikan pengaruh yang begitu besar pada negara ini di tahun 1998 tersebut. Jadi, orang-orang beranggapan bahwa film ini berusaha untuk mengupas kejadian tersebut,” ucap Fauzi Baadila yang berperan sebagai militer.

Lukman pun memberikan penjelasan bahwa di film ini ia ingin membicarakan tentang harapan. Karena memang hampir semua bangsa Indonesia merasakan bahwa pada saat peristiwa Mei 98, harapan sebagian orang hancur di tengah jalan. Jadi, Lukman sepakat untuk mengambil latar belakang tersebut tapi bukan dijadikan sebagai alur cerita yang dikupas habis. Dan, yang menjadi tokoh utamanya adalah sosok Daniel dan Diana yang diperankan oleh Boy William dan Chelsea Islan.

Film ‘Di Balik 98’ merupakan karya perdana dari Lukman Sardi yang awalnya dikenal sebagai aktor. Ia mengaku bahwa keinginan untuk menjadi seorang sutradara memang sejak lama. Dan, karya pertamanya ini menjadi semacam guru buat Lukman Sardi dan pembelajaran untuk dirinya. Begitupula ketika karya pertamanya kini berdampak pro dan kontra. Bagi Lukman ini merupakan sebuah pembelajaran.

“Gue belajar untuk selalu mengkritik diri gue secara gila-gilaan. Dan gue sangat terbuka dengan kritik selama orang yang mengkritik tersebut melakukannya dengan porsi yang benar. Tapi, balik lagi, gue tegaskan, supaya tidak menimbulkan kritikan yang macam-macam, lebih baik tonton dulu filmnya dan jangan hanya menilai dari penggalan trailer. Sekali lagi, ‘Di Balik 98’ bukan film sejarah ataupun film politik,” tegas Lukman Sardi.

Film yang juga dibintangi Donny Alamsyah, Ririn Ekawati, Teuku Rifnu Wikana, Amoroso Katamsi dan beberapa artis lainnya ini rencananya akan tayang di bioskop mulai tanggal 15 Januari mendatang. Must see movie!

Pameran Seni Tunggal Agus Kama Loedin “Trans-Forms #3”

ONE Championship Kembali ke Jakarta

WE THE FEST 2017 Siap Ramaikan Jakarta Agustus Nanti!

Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Lukisan Yang Dicoret

Photo Gallery: Magnitude Hammersonic 2017

Photo Gallery: Yellow Claw X Moet & Chandon