Percakapan antara diri, imajinasi dan kegelisahan menyaksikan kehidupan sekitar, dapat dibaca dalam lukisan-lukisan Nasita Jones.

Pada karya yang dihadirkan dalam pameran tunggal Me/You, Yesterday-Tomorrow, kanvas-kanvasnya penuh figur berekspresi misterius.

Boleh jadi ada sekian banyak pertanyaan yang terendap ketika publik menelisik setiap lukisan maupun sketsa yang ada. Mungkin juga ada sekian pernyataan yang muncul sebagai bentuk reaksi mengamati karya sang seniman yang masih belia itu.

Nasita, lahir di Jakarta, 13 Desember 1989, namun sejak awal Januari 2014, memutuskan berkarya di Bali.

Dalam eksibisi ini, untuk kali pertama Nasita memamerkan karya di studio pribadinya, Jalan Tukad Batanghari VII, No 1C, Denpasar, Bali.

Apabila diperhatikan, hampir keseluruhan karya rupanya mengedepankan bagian atas anatomi tubuh manusia.

Hanya saja tidaklah dihadirkan dalam proporsi yang ideal. Natisa seakan bebas saja mengikuti kehendak dan dorongan suara-suara hatinya.

Misalkan saja lukisan, “Sitting at Home” yang digarap dalam kurun waktu 2014 hingga 2015. Dapat dilihat bagaimana Natisa melukiskan seseorang yang sedang duduk sendirian.

Ukuran kepalanya begitu kecil, sementara kaki kirinya tampak lebih panjang dari kaki kanan. Hal serupa muncul juga pada “For the First Time”, bertahun 2015.

Selain itu, setiap lukisan boleh dikata menyimpan misteri dan tanya, dapat dilihat melalui ekspresi wajah dan tatapan mata.

Ada yang menyiratkan kemurungan, ketidakberdayaan, kehampaan, maupun ketegaran. Ada pula yang sama sekali tidak terteka, apa sesungguhnya yang hendak disampaikan sang seniman.

“Saya sedari awal memang tertarik mengangkat segala hal yang berkaitan dengan manusia, kemanusiaan, dan identitasnya. Begitu pula dengan segala pertanyaan yang melingkupinya,” kata Natisa, alumni Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Melbourne.

Melalui goresan pena dan kuasnya, Natisa ingin meyakinkan diri sembari menggali lebih jauh akan keraguan-keraguaan yang menyelimutinya selama ini.

Saat dirinya mengamati lingkungan sekitar, apakah orang lain mengalami hal serupa, atau tidak sama sekali.

Jawaban-jawaban itu coba ia temukan dengan turut menampilkan sketsa maupun catatan-catatan proses kreatifnya selama beberapa tahun belakangan.

“Saya ingin tahu bagaimana reaksi pengunjung. Apakah dengan melihat karya ini mengingatkan mereka akan pengalaman pribadinya?” ucap Natisa.

Bagi perupa yang sempat pameran di SoTo, Berlin, Jerman itu, 2013 itu, hasil akhir memang penting, namun sebuah proses jauh lebih penting. Hingga sampai pada pilihan gayanya saat ini, ia telah sekian ratus kali mengalami masa percobaan.

Dari waktu ke waktu, ia mengaku selalu ada perubahan, baik dari teknik maupun fokus yang diangkat.

“Saya terus mencari sesuatu yang mampu mendorong untuk mendalami lebih jauh. Ada banyak eksperimen yang saya lakukan,” tandasnya seraya menambahkan, sesungguhnya sudah sejak kecil ia suka mengamati kehidupan manusia.

Le Money: Ketika Para Seniman Mengesampingkan Uang Demi Idealisme

Pond dan Segala Magisnya Siap Menyihir Jakarta

Jakarta Culinary Feastival Bergulir Mulai Kamis Ini

Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Lukisan Yang Dicoret

Photo Gallery: Magnitude Hammersonic 2017

Photo Gallery: Yellow Claw X Moet & Chandon