Perempuan multitalenta Nana Tommy menggelar pameran tunggalnya di Gedung Utama Balai Pemuda Surabaya, 18-21 April 2015. Pameran ini didedikasikan khusus untuk RA Kartini, salah satu tokoh perempuan Indonesia panutannya.

Memamerkan 82 lukisan, Nana mengambil objek seragam yaitu bunga. Hampir semua bunga yang dilukis adalah hasil pengamatan langsung Nana yang menanam berbagai bunga di rumahnya. “Kalau saya buka jendela tiap pagi, bunga-bunga itu ada di depan saya,” kata Nana.

Berbagai jenis bunga diambil Nana untuk digambar selain ada burung, matahari, dan barong. “Bunga itu indah dari sejak mula ia tumbuh. Kalau jadi objek ia makin indah di atas kanvas. Juga sangat disukai perempuan bahkan siapa saja. Satu hal lagi lukisan bunga itu sangat universal jika dipasang di bagian dinding mana saja,” kata istri dr Tommy Sunartomo SpAn KIC ini.

Bagi ibu dari enam anak ini, pameran ini adalah pameran tunggalnya yang ke sembilan. Sebelumnya pameran tunggal perempuan berusia 68 tahun ini digelar di RS, Novotel, dan Hotel Mirama. Lima kali ia gelar di rumahnya di Jl Rungkut Asri 67-69 Surabaya.

Selain pameran tunggal, tidak terhitung pameran bersama yang ia gelar bersama pelukis lainnya dan bersama komunitas-komunitas pelukis. Namun baru kali ini Nana menggelar pameran tunggal yang terbesar. Nilai ‘kebesaran’ pameran tunggalnya ini di antaranya karena melihat jumlahnya yang memang paling banyak untuk diikutsertakan dalam pamerannya.

Nana juga merasa pamerannya kali ini bernilai ‘besar’ karena ia sangat bangga bisa digelar di Gedung Utama Balai Pemuda yang baru saja selesai direnovasi dan bisa digunakan lagi untuk kegiatan seni setelah beberapa tahun lalu terbakar. “Saya senang sekali bisa di gedung ini karena ada sejarah masa lalu saya saat muda sekitar tahun 1966. Saya ini termasuk angkatan 66 yang ikut berkumpul di gedung ini,” kata wanina yang piawai membordir, membatik, dan merancang perhiasan.

Nilai keistimewaan pameran Nana juga terlihat dari koleksi kain batik buatan RA Kartini yang berusia ratusan tahun. Kain batik yang masih segar warna merahnya itu didapatkannya dari ibundanya, alm Hj Mulia Masdjedi. “Saya kalau tidak melakukan banyak kegiatan, maka akan hanya jadi istri dari seorang dokter. Kita para perempuan jangan hanya mau jadi konco wingking,” tegasnya.

Le Money: Ketika Para Seniman Mengesampingkan Uang Demi Idealisme

Pond dan Segala Magisnya Siap Menyihir Jakarta

Jakarta Culinary Feastival Bergulir Mulai Kamis Ini

Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Lukisan Yang Dicoret

Photo Gallery: Magnitude Hammersonic 2017

Photo Gallery: Yellow Claw X Moet & Chandon