Bisnis adalah bisnis, tapi tidak selamanya apa yang dibangun hanya didasarkan untung rugi saja, Reading Room contohnya. Salah satu coffee shop yang terletak di daerah Kemang Selatan ini dibangun karena keinginan Richard Oh, sang pemilik, untuk memiliki satu tempat dimana ia bisa berkumpul bersama teman-temannya dengan ditemani secangkir kopi dan buku-buku. Ide yang muncul tiga tahun lalu setelah beliau menyelesaikan pengambilan gambar film keduanya di Bali ini akhirnya terwujud. Bangunan berlantai dua yang berkonsep perpustakan rumahan, lengkap dengan sofa panjang yang nyaman dan empuk, serta deretan rak berisi buku seolah membuat Anda tengah berada di perpustakaan milik sendiri.

Pemilihan lampu, meja, dan kursi yang dilakukan dengan hati-hati membuktikan bahwa penting untuk menjadikan semua aspek menonjol, tidak hanya salah satu bagian saja. Setiap detil diperhatikan, bahkan dalam pemilihan musiknya yang tidak hanya terbatas pada aliran musik yang biasa ditemui di kedai kopi pada umumnya. Kadang kita bisa mendengar jazz, kadang malah musik alternative atau indie. Bagi sebagian orang mungkin membaca buku dengan ditemani musik yang seperti itu bisa jadi tidak nyaman, tapi bagi sebagian lagi, malah bisa jadi ruang untuk pembelajaran.

“Tempat seperti ini, tidak bisa menghasilkan banyak uang,” imbuhnya santai sembari tertawa kecil, “tapi lihat, ada yang menjadikan tempat ini berbeda dengan tempat lainnya.”

Buku, itu adalah yang menjadikan tempat ini berbeda. Deretan buku yang tersusun rapi dan memenuhi hampir tiga perempat bangunan ini seolah menjadi jiwa dari Reading Room, selain memang si pemilik yang dikenal sebagai penulis buku dan sutradara, juga adalah seorang penggila buku. Mata pengunjung akan dibuat kagum dengan ratusan, atau bahkan ribuan buku yang ada. Para penggila buku tentu akan terpuaskan dan tidak akan berpikir dua kali untuk menghabiskan waktu di surga buku satu ini, dan Anda tidak akan dikenakan biaya serupiahpun untuk membaca buku-buku yang ada di sini. Bahkan untuk buku-buku yang ada tersimpan di bagian koleksi pribadi sang pemilik sekalipun, Anda hanya diminta untuk meninggalkan kartu identitas selama berada di sana. Pihak Reading Room tidak mengenakan biaya sedikitpun bagi pengunjung yang ingin membaca. Tapi tentu, tidak lengkap membaca buku tanpa dilengkapi secangkir kopi. Ada beberapa pilihan yang bisa Anda coba, mulai dari espresso, cappuccino, hingga perpaduan es krim dan kopi dalam affogato latte. Jika lapar, coba beberapa menu makanan yang hanya dapat ditemukan di kedai kopi unik satu ini.

“Kuncinya, jadikan tempat ini sebagai cerminan jiwa. Lakukan sesuatu dengan hati, dan apapun itu akan dijalani dengan ringan dan senang,” tambah lelaki yang berpendapat jika harus ada relevansi antara kopi dan budaya ini. Baginya, pertukaran budaya harus dapat terjadi di tempat ini, dan sejak dulu kedai kopi dikenal sebagai tempat dimana kebanyakan pekerja seni berkumpul dan bertukar pikiran. Ia berharap dapat menjadikan Reading Room sebagai tempat bagi para pekerja dan penyuka seni untuk saling berbagi dan menyalurkan ide kreatif masing-masing.

“Kopi adalah bagian hidup Saya, pembangun pagi Saya, oleh karena itu minumnya pun lebih baik pagi dan rasanya pun harus enak. Karena kalau nggak, cuma bikin lemas dan sinergi nggak kebuka,” ucapnya seraya menutup obrolan singkat kami sore itu. Saya tertawa kecil, dan mengangguk, tidak bisa tidak setuju dengan pendapat beliau kali ini. Pandangan Saya kembali berputar mengagumi deretan buku yang mengisi setiap tempat yang ada, menghirup dalam-dalam aroma kopi dan kertas-kertas bercampur di udara. Surga.

Suatu saat nanti tempat ini akan menjadi legenda, dimana kita bisa duduk membaca berlembar-lembar buku sebelum mereka tergantikan dengan teknologi digital. Jadi, sudahkah Anda memasukkan Reading Room ke dalam list minggu ini?

Reading Room

Alamat : Jl. Kemang Timur Raya No. 57 A, Kemang, Jakarta

Telephone : 021 90277567

Pameran Seni Tunggal Agus Kama Loedin “Trans-Forms #3”

ONE Championship Kembali ke Jakarta

WE THE FEST 2017 Siap Ramaikan Jakarta Agustus Nanti!

Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Lukisan Yang Dicoret

Photo Gallery: Magnitude Hammersonic 2017

Photo Gallery: Yellow Claw X Moet & Chandon