Di sela-sela kesibukannya sebagai duta merek kecantikan Lancome dan Yayasan Musik Sastra Indonesia (YMSI), juga sebagai dokter, Mesty Ariotedjo menyisipkan waktu untuk mewujudkan mimpinya meluncurkan album musik.

“Keinginan membuat albumnya sudah ada sejak tahun 2010. Saat itu ada kerja sama membuat konser bersama yayasan milik Dian Sastro, berjudul Tentang Perempuan. Lalu saya membuat komposisi-komposisi sendiri,” kata Mesty saat ditemui beberapa waktu lalu di Jakarta.

Album yang akan diberi judul Tentang Perempuan ini akan berisi sembilan lagu instrumental. Mesty mengaku memiliki tujuan khusus dalam membuat album ini. Sebagai sebagai duta YMSI, Mesty merasa ingin menciptakan musik sendiri, tidak selalu memainkan lagu karangan orang lain. Selain itu ia berharap bisa mendekatkan masyarakat dengan musik klasik.

“Saya ingin masyarakat Indonesia memahami dan dekat dengan musik klasik. Sebab, kebanyakan orang beranggapan musik klasik itu rumit. Karena itu saya membuat lagu-lagunya easy listening. Ada beberapa lagu, seperti Masa Kecilku dari Elfa, juga lagu karangan AT Mahmud yang saya remake jadi orkestrasi, supaya lebih mudah didengar,” ujar pemilik nama lengkap Dwi Lestari Pramesti Ariotedjo itu.

Di samping itu, perempuan berusia 26 tahun ini juga menggunakan lagu-lagunya untuk mengungkapkan pemikirannya. “Saya berusaha membuat komposisi lagu yang menggambarkan diri saya. Sebab, kita bisa menyampaikan pandangan dan pikiran lewat musik. Benang merah dan konsep album ini adalah tentang perempuan. Lagunya disusun berurutan mengisahkan perjalanan perempuan dari kecil hingga dewasa,” jelas perempuan yang sedang mengambil spesialisasi kedokteran ini.

Dilanjutkan Mesty, lewat album ini ia ingin mengajak perempuan generasi muda untuk punya mimpi setinggi-tingginya, apa pun mimpinya, asalkan bermanfaat bagi orang lain, teruslah berusaha meski akan selalu ada halangan.

Untuk membuat album ini, Mesty menempuh perjalanan yang tidak mudah. Saat produksi, ia tengah menjalani masa magang sebagai dokter dan penempatan di luar Jakarta. “Saya mengambil penempatan di Ruteng, Nusa Tenggara Timur, dari tahun 2012-2013. Jadi, sebagian besar lagunya saya buat di sana. Saya bawa keyboard ke sana. Kemudian saya kirim aransemennya ke Jakarta, setelah disetujui, mereka kirim lagu lengkapnya ke orkestra di Beijing supaya direkam.”

Di album ini, ia bekerja sama dengan China Symphony Orchestra untuk memainkan lagu-lagunya, sementara Mesty merekam permainan harpa, piano, dan flute di Jakarta. “Saya rekamannya saat libur sepekan dari magang, sekitar masa Lebaran waktu itu. Setelah rekaman, lalu kembali ke Ruteng. Dari sana saya mengabarkan apa saja yang harus direvisi. Jadi, prosesnya cukup lama, sekitar tiga tahun,” jelasnya.

Album yang diproduseri Andreas Arianto ini akan bersifat indie dan diharapkan bisa mulai didistribusikan bulan Oktober mendatang.

Le Money: Ketika Para Seniman Mengesampingkan Uang Demi Idealisme

Pond dan Segala Magisnya Siap Menyihir Jakarta

Jakarta Culinary Feastival Bergulir Mulai Kamis Ini

Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Lukisan Yang Dicoret

Photo Gallery: Magnitude Hammersonic 2017

Photo Gallery: Yellow Claw X Moet & Chandon