Nafis Adhikari, seniman muda asal Indonesia yang tengah mendalami bahasa Jepang di Jepang
Nafis Adhikari, seniman muda asal Indonesia yang tengah mendalami bahasa Jepang di Jepang

Waktu kita masih kecil, sering sekali kita menggambar apa saja yang kita lihat atau sekedar mencoret-coret. Ketika dewasa, kalau Anda serius menggambar, Anda  bisa menjadi seorang seniman. Seniman di Indonesia itu banyak sekali, termasuk seniman Nafis Adhikari.

Let us introduce you to this young talented guy who stay in Japan now. Nafis Adhikari adalah seniman muda berdarah Indonesia yang tengah fokus belajar bahasa Jepang dan mempersiapkan proyek seni di Negeri Sakura, sembari mencari sesuap nasi. Berada di Jepang adalah salah satu impiannya. Salah satunya adalah karena sejak berusia 3 tahun, ia suka sekali menggambar dan sejak kecil senang menonton anime dan baca manga.

Karena sejak kecil dekat sekali dengan segala hal berbau Jepang, style-nya dalam berkarya di bidang seni ini sangat kental sekali dengan manga atau anime, dan semacamnya. Mungkin kalau sejak kecil pria yang lahir di bulan Oktober ini membaca karya-karya R.A. Kosasih, gambar-gambarnya tidak akan seperti gambar seorang mangaka.

Kisahnya dalam dunia seni menarik untuk disimak. Apalagi pria yang sudah membuat beberapa karya untuk kemudian dijual secara online beberapa waktu lalu dengan seniman lainnya ini, merupakan “seniman” yang gayanya mungkin sangat jarang Anda lihat dan temukan, sehingga Anda akan sangat tertarik untuk melihatnya. Apalagi bagi Anda yang sangat menyukai budaya Jepang, khususnya suka dengan anime dan manga.

Berikut adalah obrolan saya dengan Nafis beberapa waktu lalu…

Fokus gambar lo ini arahnya ke mana sih? Manga atau art yang dipamerin saja, atau menjadi semacam seni kontemporer?

Jujur untuk hal ini gue nggak pernah ambil pusing, karena pada awalnya gue gambar untuk hobi saja, dan kalau gue gambar, gue jadi tenang. Gambar itu bagi gue kayak ibadah, gue lagi pusing atau sedih pun gue bakalan jadi tenang. Tapi ketika ternyata “ibadah” gue ini mendatangkan rezeki, gue jadi seneng banget. Mungkin untuk ke depannya gue bakalan lebih seriusin ibadah gue ini, karena sebelum ini gue tekun di design, tapi nggak pernah tekun di ilustrasi. Mungkin ke depannya akan menjadi sesuatu untuk dipamerkan atau produk, bahkan jasa.

Bisa jelasin nggak tentang gaya seni lo sekarang?

Emmm… Ini gue paling bingung…  Bisa dibilang gue terinspirasi dari ilustrator dan mangaka Jepang kayak Kojima Ayami, Kaneko Kazuma, Itou Junji, dan Maruo Suehiro. Terus gue terinspirasi juga dari mangaka jaman showa seperti Umezu Kazuo, Ishinomori Shotaro, Fujiko Fujio, dan Tezuka Osamu. Mungkin bakal banyak yang heran kenapa gue kok nggak terinspirasi dari “seniman”, tapi malah dari mangaka?

Well, ya menurut gue manga itu juga merupakan seni, banyak yang ngerendahin manga karena dianggapnya hanya “komik”. Menurut gue itu salah, karena untuk menciptakan satu manga itu perjuangannya gila-gilaan banget. Konsep, ide, bahkan eksekusinya itu menurut gue bisa ditandingin sama “seniman”. Terus satu lagi, gue suka banget sama yang namanya distorsi. I find beauty in chaos.

Gue suka banget sesuatu yang berbau nggak beraturan, anarkis, dan terkesan berantakan. Gue nggak nyaman banget dengan sesuatu yang serba “clean” dan “neat“. Bisa dibilang semangat gambar gue berangkat dari situ. Menurut gue the existence of order in chaos itu ada. Jadi walaupun terkesan berantakan tapi ini semua pakai perhitungan, jadi nggak sembarangan. Terkesan paradoks dan berlawanan kan? Ya itulah identitas gue, paradoks.

Anyway, what are you doing in Japan? Ada proyek apa yang lo akan buat di sana?

Sekarang gue lagi fokus belajar bahasa saja sambil mencari sesuap nasi, hahaha… Tapi karena di sini gue udah nggak kerja sebagai designer, banyak waktu luang gue yang akhirnya gue pakai untuk berkarya dan juga gue mikir, mumpung di Jepang, mungkin peluang untuk gue akan lebih banyak ketimbang di Indonesia yang kebanyakan masih mikir “style” kayak gini tuh hanya untuk anak kecil.

Ke depannya gue pengen banget bikin pameran di sini (Jepang), harus jadi hahaha… Doain ya dan kebetulan gue lagi ada proyek kolaborasi sama temen gue di New York. Doain aja lancar jadi bisa cepet release, hahaha…

Lo nggak kepikiran untuk menjadi seorang mangaka? Atau cukup gambar lo saja yang terlihat kental dengan manga?

Gue pengen banget jadi mangaka, tapi bikin manga itu nggak gampang dan di Jepang pun yang bisa betul-betul hidup dari manga itu cuma sedikit. Bikin manga itu kompleks banget. Ini bukannya gue menyerah ya, tapi gue melihat ada opportunity lebih buat gue di bidang lain. Kebetulan gue bisa design dan bisa gambar, jadi mungkin gue bakal lebih bergerak ke arah bidang jasa. Mungkin untuk sekarang cukup gambar gue aja yang begini, tapi gue nggak menutup kemungkinan lain,hehehe…

Bagaimana car lo mengaplikasikan karya lo, agar orang lain notice? Apakah sekedar lewat pameran atau bikin produk di mana gambar lo muncul di produk itu?

The first step’s simple, gue “melacur” di sosial media, hahah… Gue bakal sering ngepost terus nggak peduli orang suka gambar gue atau nggak, yang penting mereka tahu gue itu suka gambar. Dari situ mungkin berangkat ke pameran dan produk. Sebenernya kemarin sebelum summer gue udah buat desain sweater dengan gambar gue, tapi summer keburu dateng. Kalau gue jual nggak akan laku hahaha… Mungkin kalau summer sudah kelar gue akan start produksi.

Previous Image
Next Image

info heading

info content


Lo kan bikin sebuah karya bernama SANTO HERETIKA. Ceritain dong itu sebenarnya apa?

SANTO HERETIKA itu merupakan alias gue and hopefully akan menjadi studio gue juga. Gue berencana menjadikan SANTO HERETIKA ini jadi studio gue di mana gue bisa menyalurkan gambar gue ini jadi jasa ataupun produk. Mungkin targetnya gue pengen kayak Toriyama Akira dan Bird Studio-nya gitu.

Kenapa namanya SANTO HERETIKA? Filosofi nama dan gambarnya itu apa sih, bisa cerita?

Nggak ada alasan khusus, hampir sama kayak kalau gue gambar sih, nggak kebanyakan pakai konsep, hahaha… SANTO itu artinya orang suci dan HERETIKA sendiri diambil dari heretic, yang artinya orang yang punya pikiran dan kepercayaan yang berbeda terhadap sesuatu yang suci dan sakral dari standar yang ditentukan. Kalau jaman dulu, makanya heretic diasosiasikan sama penyihir atau orang yang sesat atau paganisme ketika monoteisme sudah mulai masuk. Mulai terjadi paradoks lagi kan? Ya itulah gue. Huruf C di heretic gue ganti K biar kesannya lebih tua kayak ejaan romawi lama. Dan akhirannya gue tambahin A biar ada kesan kayak nama orang saja, hahaha…

Biasanya sebuah seni atau art itu merupakan representasi dari pembuatnya. Sejauh mana SANTO HERETIKA ini menjadi representasi diri lo?

Seperti yang gue bilang, SANTO HERETIKA itu adalah alias gue. Jadi pretty much gue adalah SANTO HERETIKA dan SANTO HERETIKA adalah gue. Ini sesuatu yang nggak bisa gue pisah.

Apa pesan yang pengen lo sampaikan kepada penikmat seni, apapun itu, melalui SANTO HERETIKA maupun karya-karya lo yang lain?

Gue nggak tahu sih buat penikmat seni, gambar gue ini dianggap seni atau nggak.  Karena gue sendiri terkadang juga nggak yakin ini seni atau bukan. Entah kenapa kata “seni” itu berat banget, kadang gue takut untuk memakai kata itu. Jujur. Makanya dari awal interview pun gue nggak pernah ngomong “seni gue”, tapi selalu gue sampaikan dengan “gambar gue”.

Pesan gue nggak ada yang khusus sih. Mungkin cuma gue mau mengekspresikan bahwa yang gue hasilkan ini, meskipun berantakan dan terkesan seperti untuk anak kecil, bisa dinikmati orang dewasa juga. Cuma kalau yang menikmati anak kecil juga nggak apa-apa sih. Malah gue seneng kalau bisa menginspirasi mereka, seperti gue terinspirasi sama Fujiko Fujio waktu kecil, hahaha…

Tapi mungkin semangat yang mau gue sampaikan lewat gambar-gambar gue ini adalah order in chaos dan paradoks.

Homeshake Akan Menyambangi Jakarta Pada Januari 2018!

Le Money: Ketika Para Seniman Mengesampingkan Uang Demi Idealisme

Pond dan Segala Magisnya Siap Menyihir Jakarta

Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Lukisan Yang Dicoret

Photo Gallery: Magnitude Hammersonic 2017

Photo Gallery: Yellow Claw X Moet & Chandon