Jamie, Gus, dan Sarah dari Kero Kero Bonito berbagi cerita soal grup elektronik pop yang mereka jalani dan juga sedikit cerita menarik saat berada di Jakarta. (Foto oleh Ramadan Tobing)
Jamie, Gus, dan Sarah dari Kero Kero Bonito berbagi cerita soal grup elektronik pop yang mereka jalani dan juga sedikit cerita menarik saat berada di Jakarta. (Foto oleh Ramadan Tobing)

Kontributor: Adhie Sathya

Kedatangan Kero Kero Bonito ke Indonesia pada 18 dan 19 November lalu meninggalkan cerita dan fakta menarik yang perlu Anda tahu. Trio pop elektronik yang beranggotakan Jamie Bulled, Gus Lobban, dan Sarah Midori ini menyempatkan diri mereka untuk diajak ngobrol bersama HangOut Indonesia di The Goods Dinner pada Jum’at (18/11) sore.

Kami berbincang banyak soal latar belakang grup pop elektronik asal London, Inggris ini. Mulai dari kisah awal mereka terbentuk sampai membicarakan pengalaman mereka menyambangi Blok M dan macetnya Jakarta. Simak obrolan kami di sini!

Hi guys, kalian di Jakarta sudah empat hari nih. Sudah ke toko musik mana saja sih?

Gus: Ya… Kami sempat ke Blok M Square bawah. Di sana, kami melihat banyak banget toko musik yang menjual album-album langka. Lupa, namanya. Tapi, kami menemukan banyak banget rilisan bagus di sana, yang di luar pun belum tentu ada!

Katanya kalian sempat mencoba Nasi Padang? Gimana rasanya? Nggak aneh tuh? Kan makannya harus pakai tangan.

Gus:Yes, It’s good. Banyak banget saosnya di piring. Makannya enak banget. Satu yang saya suka adalah otak ayam! Saya sekarang bisa bayangin apa rasanya otak kalau dimakan.

Sarah: Ada tuh apa namanya Rendang kalau nggak salah. Enak banget.

Apa sih hal yang paling menakjubkan buat kalian selama berada di Jakarta?

Sarah: Macetnya sih!

Jamie: Jadi, pagi tadi, kami pergi ke sebuah pasar menarik di Blok M Square. Sampai di sana cuma ada satu toko yang buka, kita ketemu yang punya dan dia orang yang sangat baik.

Gus: Dan, kita tanya ada nggak sih koleksi musik elektronik Indonesia, 70-80an, pop musik. Terus dengan cepatnya, dia langsung setel sebuah piringan Dina Mariana. It was like amazing. Langka banget, bahkan mungkin nggak bakal ketemu kalau cuma Googling. Langsung kita beli deh!

Jamie: Dan satu lagi, orang-orang nongkrong di pinggir jalan, saya suka banget lihatnya padahal motor mobil berlalu lalang.

Gus: Terus juga banyak banget orang-orang di pinggir jalan, bawa-bawa gitar akustik dan nyanyi. It’s pretty cool. Di UK nggak ada seperti itu. Di sana, kamu harus mabuk dulu untuk bisa nyanyi-nyanyi di pinggir jalan. Tapi di sini, semuanya keren!

BACA JUGA: 5 fakta tentang trio pop elektronik Kero Kero Bonito

Langsung deh ngomongin musik. Gimana sih skena musik elektronik di London, khususnya underground?

Gus:It’s cool you know. Semua orang di sana dapat merasakan skena elektronik sedang naik-naiknya saat ini. Walaupun persaingan antara musisinya juga sangat ketat di sana.

Terus apa yang membuat kalian memutuskan untuk berkiprah di jalur chiptune dan dancehall, khususnya dengan unsur Japanese-nya?

Gus: Awalnya, kami nggak ada niatan untuk terjun ke skena Japanese. Tapi kamu tahu kan Sarah punya darah Jepang dan punya latar belakang Jepang. Tapi kalau dancehall sebenarnya datang dari ayah saya. Dulu, dia punya banyak sekali koleksi musik-musik dance Jamaican 90-an di London Selatan yang tentu saja sering banget saya dengar sampai sekarang. Menariknya, beberapa lagu dari koleksi ayah dulu ternyata menggunakan tone keyboard yang saya gunakan juga untuk membuat proyek-proyek DIY di rumah. Dan soal chiptune, tentu saja datang dari video game. Ya, generasi kita tahu banget tentang video game, kalau lagi ada waktu kosong, pasti kita ngegame. Awal saya berkenalan dengan game pas saya lahir. Ayah membelikan saya Super Nintendo dan dari situ saya mulai dapat banyak ide-ide untuk menggarap musik chiptune.

Bagaimana dengan kamu Jamie, bagaimana kamu ketemu Gus pertama kali?

Jamie: Jadi, awalnya, kami punya banyak banget teman-teman dekat. Saya tahu Gus bisa bikin musik, dan kebetulan saya juga bikin musik tapi untuk band yang berbeda. Menariknya, kami bisa kenalan karena kami punya banyak teman yang juga kenal satu sama lainnya. At some point, saya masuk kuliah, kena drop-out, balik lagi buat seriusin proyek ini bersama Gus.

Gus: Ya, hari di mana Jamie datang ke rumah saya buat bikin proyek itu karena dia lagi nganggur setahun.

Nah, bagaimana kalian bisa menyatukan chemistry? Kan kalian dua-duanya adalah produser musik dan pasti susah untuk menyatukan ide.

Jamie: Kami berdua lahir di minggu yang sama. Jadi kalau kalian percaya sama yang namanya zodiak, then it would work out. Tapi, kami berdua memang tertarik kepada genre musik yang sama. Jadi secara alami, we’re connected.

Untuk membuat musik, khususnya elektronik, pasti ada proses kreatif yang nggak mudah juga. Bagaimana dengan proses kreatif bermusik kalian? Terutama saat penggarapan di awal.

Gus: Ya, contohnya Break. Yang pertama kali muncul di kepala saya adalah melodi di chorus. Jadi, kami mulai mengkhayal kemana arah lagu ini mau mengarah dari sana. Soal lirik, awalnya kita sampai stuck mikirin mau masukin lirik apa. Nggak sengaja, ada ibuku. Terus dia bertanya, kenapa sih pusing-pusing. Just take a break. Nah, dari situ kita kembangin lagi. Terus ide bikin Lipslap datang dari ingatan Jamie.

Jamie: Sebenarnya, dasar lagu itu adalah lantunan akustik gitar yang saya sudah dengar selama empat tahun lamanya. Saya dan Gus masukkan sampling gitar tersebut ke laptop dan kita ubah seaneh mungkin.

Sarah, kamu tahu dua orang ini dari Internet dan kamu juga tahu chiptune bukan musik yang mainstream. Apa yang menyakinkan kamu mau bergabung dengan Kero Kero Bonito?

Sarah: Ya, awalnya aku selalu rajin ngecek papan buletin di internet dan suatu ketika mataku tertarik pada satu flyer pengumuman ini. Jujur, aku nggak punya pengalaman ngeband sebelumnya. Ini adalah band pertamaku. Terus dalam hati aku berkata “Mengapa tidak dicoba?”. Dan waktu itu, aku juga tengah masuk tahun ketiga kuliah dan mencari beberapa kesibukan buatku sendiri.

Jadi kalian sempat menggelar audisi buat Sarah?

Gus: Ya, kami sempat mengetes vokalnya dan beberapa kali nongkrong bareng dengannya. Saya pikir, Sarah yang membawa kharisma ke dalam band ini.

Sarah: Ya, aku lulus ujiannya hehe…

Buat kalian semua nih, apa sih titik awal kalian mengenal budaya Jepang?

Gus: Kalau saya dan Jamie mungkin dari video game dan serial TV yang mereka buat. Tapi dasarnya sih game. Kemudian baru serial-serial kartun Jepang. Bayangkan seperti bocah 8 tahun yang setiap hari nonton kartun dan main video game Jepang. Tapi kalau Sarah, mungkin agak berbeda dari kami berdua.

Sarah: Mungkin titik awalnya sih ketika aku lahir di Jepang hehehe… Tiap kali nyalain TV, pasti semua hal berbau tentang Jepang langsung muncul. Tapi, aku mulai sadar aku mengadopsi budaya Jepang ketika berusia 13 tahun. Aku nonton Pokemon, main Playstation 2. Dan seperti generasi kita sekarang di manapun mereka berada, ketika berbicara Pokemon, pasti heboh.

Kalian selalu bersikap positif terhadap isu dunia meski banyak hal negatif di sekitar kalian seperti terpilihnya Donald Trump di Amerika Serikat atau Brexit. Apakah ini bentuk dari “Sweet Rebellion” yang kalian lakukan?

Gus: Lebih ke pergolakan budaya sih karena kami merasa semua pasti akan bersikap serius ketika sudah berbicara tentang kebudayaan. Dan jujur, buat kami, melawan sistem yang menghancurkan kebudayaan adalah sebuah keharusan. Tapi saya merasa kita tengah menuju ke dalam waktu yang aneh. Nggak tahu bagaimana orang Indonesia bersikap, tetapi kita yang ada di Barat merasa tertekan. Semua orang merasa dirinya sampah. Dengan KKB, kami berharap bisa menjadi pengingat buat mereka kalau kita masih punya harapan loh.

Cerita dari album mereka dikemas dengan nuansa ceria, meskipun ada sejumlah cerita yang terkesan sedih. (Foto oleh Ramadan Tobing)
Cerita dari album mereka dikemas dengan nuansa ceria, meskipun ada sejumlah cerita yang terkesan sedih. (Foto oleh Ramadan Tobing)

Kero Kero Bonito sudah berjalan empat tahun terakhir nih dan dua album sudah dirilis. Apa yang ingin mencoba hal lain seperti ganti genre atau ganti penampilan?

Gus: Satu hal yang membuat kami sudah berbeda adalah cara Sarah menyampaikan sesuatu lewat musik-musik KKB.

Sarah:I don’t, aku mungkin bisa belajar Bahasa Korea jadi bisa ngerap pakai Korea. Ya, bisa bergabung dengan KKB dan berkarya bareng dengan mereka adalah hal yang menyenangkan, khususnya ketika kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau dengan bahasa Inggris dan Jepang.

Jamie: Bahkan, dengan fakta kami sudah melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun, semuanya masih terasa sangat menantang. Tapi tentu saja, untuk musik, kami akan berkembang lebih jauh lagi seperti dari album pertama ke album kedua terasa perbedaannya.

Ngomongin soal album, kalian baru merilis album kedua berjudul Bonito Graduation dan ada satu lagu yang menarik di sana, berjudul Break. Ceritakan dong gimana sih proses kreatifnya lagu?

Gus: Yah, Break dipengaruhi beberapa rilisan hip hop/rap Jepang di mana Sarah banyak terlibat. Tetapi juga ada sedikit nuansa pop Amerika yang menyatu di dalam melodi. Soal liriknya juga, ide untuk membahas “doing nothing” di lagu ini muncul banyak lagu-lagu jaman sekarang yang “do nothing” yang justru ending-nya malah jadi “boring“. Dan lagu Break ingin meluruskan imej lagu-lagu “do nothing” tersebut menjadi sesuatu yang seru untuk didengar dan nggak terkesan boring sih.

WE THE FEST 2017 Siap Ramaikan Jakarta Agustus Nanti!

Justin Bieber Gelar Konser di Singapura 7 Oktober Mendatang

Berkumpulnya Layang-layang Dunia di Sanur International Kite Festival 2017

Photo Gallery: Magnitude Hammersonic 2017

Photo Gallery: Yellow Claw X Moet & Chandon

Photo Gallery: Belvedere Playground The Debut