Para atlet yang tergabung dalam Breaking2 ini siap untuk memecahkan rekor maraton terbaru bersama Nike.
Para atlet yang tergabung dalam Breaking2 ini siap untuk memecahkan rekor maraton terbaru bersama Nike.

Tengah Desember ini, perusahaan yang bergerak di bidang sportswear ternama di dunia, Nike, memperkenalkan sebuah inovasi visioner terbaru yang didesain untuk memaksimalkan potensi manusia, yaitu Breaking2. Tujuan inovasi ini ambisius, memungkinkan waktu maraton menjadi kurang dari dua jam atau bisa dikatakan untuk mengukir rekor maraton baru.

Sejauh ini, rekor maraton tersingkat manusia berada pada catatan waktu 2:02:57 dan bagi Nike bukanlah sesuatu yang tidak mungkin untuk mempersingkatnya, meskipun terlihat mustahil.

Untuk dapat mengukir rekor baru tersebut, Nike membentuk tim yang terdiri dari para pakar di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan olahraga, menggunakan pendekatan menyeluruh pada atlet, produk, pelatihan, gizi, dan lingkungan. Breaking2 membuka peluang untuk mengeksplorasi kemampuan manusia mencapai hal-hal yang mustahil. Ini adalah perwujudan utama dari misi Nike: Memberi inspirasi dan inovasi pada seluruh atlet di muka bumi.

Apa sih misi dari Breaking2?

Pada  1954,  Sir  Roger  Bannister  berlari  dalam  lintasan  satu  mil  selama  empat  menit.  Bannister  tak  hanya memecahkan   rekor.   Dia   juga   mendefinisikan   ulang   batas   kemampuan   para   atlet   dan   mendorong kepercayaan diri orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Kisah luar biasa ini mengingatkan kita bahwa inspirasi—kepercayaan mutlak pada tujuan yang mustahil—adalah dasar bagi setiap potensi manusia. Terlebih, seperti yang dikatakan Bill Bowerman, co-founder Nike dan  pelatih  lari  legendaris,  “Tujuan  sebenarnya  dari berlari  bukanlah  untuk  memenangkan  sebuah pertandingan, tetapi untuk menguji batas-batas di dalam hati manusia.”Secara esensi, Breaking2 lebih dari sekadar lari maraton.

Berusaha  melintasi  batas  maraton  selama  dua  jam  berarti  menantang  anggapan  terhadap  apa  yang mungkin   dilakukan   dalam   olahraga,   mengatur   ulang   ekspektasi   produk   dan   memungkinkan   Nike mengumpulkan gagasan-gagasan atlet yang luar biasa. Pelajaran ini dapat diterapkan ke semua yang Nike lakukan,  termasuk  produk dan  layanan,  untuk  akhirnya  dapat  memberikan  pelayanan  pada  semua  pelari secara  maksimal.  Satu-satunya  kegagalan  sesungguhnya  adalah  tidak  mencoba  melakukan  tujuan-tujuan yang ambisius dan mustahil tersebut.

Siapa saja atletnya?

Untuk dapat lari maraton selama dua jam, diperlukan pemangkasan tujuh detik dari tiap lintasan sepanjang 26,2 mil dari total lintasan maraton. Bahkan untuk para pelari terbaik di dunia, ini adalah sebuah lompatan besar. Nike menghabiskan banyak waktu mengidentifikasi tiga atlet elit yang sangat cocok untuk (dan cukup berani untuk menerima) tantangan ini. Mereka adalah Eliud Kipchoge dari Kenya, Lelisa Desisa dari Ethiopia, dan Zersenay Tadese dari  Eritrea. Ketiganya  siap  menerima  tantangan  mencapai  tujuan  yang  mustahil  dan  lari  maraton  selama  dua  jam. Para pelari ini tidak takut terhadap hal-hal yang tidak mereka ketahui. Mereka siap menghadapinya.

ELIUD KIPCHOGE

Eliud  Kipchoge,  32  tahun,  lahir  pada  5  November  di  Kapsisiywa, Distrik   Nandi,   dan   telah   meraih   medali   dalam   Olimpiade   dan kejuaraan tingkat dunia. Eliud mulai berlari setelah menyelesaikan SMA   dan   selama   bertahun-tahun   dia   menghabiskan   waktunya untuk mengamati pelatih dan mentornya, Patrick Sang, yang hingga kini masih tercatat sebagai pelatihnya.

Pada  2003,  Eliud  mulai  mendapat  perhatian  untuk  lari  jarak  jauh setelah mencatat rekor dunia junior baru dengan lintasan sepanjang 5.000  meter  pada  IAAF  World  Cross  Country  Championship.  Pada akhir tahun itu, Eliud menjadi World Champion dalam World Championships in Athletics. Pada 2012, Eliud menetapkan rekor terbaik setengah maraton dengan waktu 59:25.

Eliud memenangkan medali perunggu pada Athens Olympics 2004 dalam kategori 5.000 meter, medali perak pada 2008 Beijing Olympics  dalam  kategori  5.000  meters,  dan  yang  terbaru,  medali  emas  pada  Rio  Olympics  2016  dalam kategori   maraton   laki-laki.

Ia   mempersingkat   waktu   maraton   terbaiknya   selama   5   detik   setelah memenangkan  Berlin  Marathon  dengan  catatan  waktu  2:04:00.  Pada  2016,  ia  kembali  mempersingkat waktu rekornya dalam London Marathon dengan waktu kemenangan 2:03:05.

ZERSENAY TADESE

Zersenay Tadese, 34 tahun, lahir pada 8 Februari di Adi Bana, Eritrea. Ia meraih medali perunggu dalam kategori 10.000 meter di Athens Olympics 2004 dan menjadikannya sebagai peraih medali Olimpiade pertama dari Eritrea. Ia juga menjadi atlet Eritrea pertama yang memenangkan Kejuaraan Dunia saat memenangkan lari 20 kilometer di IAAF World Road Running Championships 2006.

Zernasay mencatat rekor kemenangan selama empat kali berturut-turut dalam World    Half    Marathon    Championships    dari    2006-2009    dan    kembali memenangkannya pada 2012. Ia mencatatkan rekor dunia dalam Lisbon Half Marathon  2010  dan  mengalungi  medali  emas,  perak,  dan  dua  perunggu  pada  IAAF  World  Cross  Country Championships. Zersenay adalah peserta empat kali Olimpiade, yang bertanding pada Olympic Games pada 2004, 2008, 2012, dan 2016.

Pada  2009,  Zersenay  menjadi  orang  kedua  yang  memenangkan  medali  World  Championship  dalam  tiga kategori  berbeda  di  tahun  yang  sama.  Zersenay  kini  memegang  rekor  dunia  setengah  maraton  laki-laki dengan catatan waktu 58:23. Saudaranya, Kidane Tadese, juga menjadi pelari jarak jauh professional.

LELISA DESISA

Lelisa Desisa, 26 tahun, lahir pada 14 Januari di Shewa, Ethiopia. Pada awar kariernya, Lelisa fokus pada lari jalanan. Ia memulai debutnya pada 2010 setelah berlari dalam kategori lintasan 60 menit dan meraih peringkat ketiga pada Zayed International Half Marathon. Ia memenangkan banyak pertandingan lari tingkat tinggi seperti Boilermaker 15K, Cherry Blossom 10-miler, Bolder Boulder 10K, dan Delhi Half Marathon.

Lelisa mulai dikenal dalam kategori maraton dengan catatan waktu 2:04:45 di Dubai Marathon 2013. Lelisa juga memenangkan Boston Marathon 2013 dan, ketika terjadi pengeboman dalam acara tersebut, dia menyerahkan medalinya kepada kota Boston untuk menghormati seluruh  korban  pengeboman.  Pada  2015,  ia  kembali  memenangkan  Boston  Marathon  dengan  waktu 2:09:17 dan meraih peringkat kedua pada 2016.

Tim terdiri dari pakar kelas dunia

Nike  selalu  mencari  tantangan    untuk  ditembus  dan  gagasan  maraton  dua  jam  tersebut  telah  muncul berulang kali. Didorong oleh semangat jangka panjang untuk berlari, Nike mulai menyiapkan solusi alas kaki yang  didesain  secara  spesifik  untuk  maraton  pada  2013.  Upaya  ini  terus  berkembang  secara  penuh  dan menjadi  komitmen  total  untuk  memecahkan  tantangan  lari  maraton  selama  dua  jam,  dan  mendorong pembentukan tim Breaking2.

Tim  Breaking2  terdiri  dari  pakar-pakar  kelas  dunia  di  bidang  biomekanika,  pelatihan,  desain,  teknis, pengembangan  material,  nutrisi  dan  psikologi  olahraga,  serta  fisiologi.  Kombinasi  antara  pengetahuan lintas  bidang dalam  tim  bertujuan  untuk  memaksimalkan  kinerja  dalam  tingkat  molekuler.  Dalam  hal  ini, tim akan terus berfokus pada tiap detail pengembangan Breaking2, dari kondisi cuaca hingga bahan, yang memungkinkan Eliud, Lelisa, dan Zersenay memaksimalkan potensi mereka.

Aksi mereka sendiri baru akan dimulai tahun depan. Kira-kira akan kah para atlet dan Nike berhasil memecahkan rekor maraton baru nanti?

Pameran Seni Tunggal Agus Kama Loedin “Trans-Forms #3”

ONE Championship Kembali ke Jakarta

WE THE FEST 2017 Siap Ramaikan Jakarta Agustus Nanti!

Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Lukisan Yang Dicoret

Photo Gallery: Magnitude Hammersonic 2017

Photo Gallery: Yellow Claw X Moet & Chandon