PADA dekade 70-an, ada satu rumah di Jalan Pegangsaan Barat 12 Menteng, Jakarta Pusat yang nyaris tak pernah sepi pengunjung. Rumah milik keluarga Nasution itu selalu ramai oleh anak muda yang sedang dimabuk oleh musik. Hampir setiap hari mereka lewati dengan mencipta karya, berdiskusi atau sekedar nongkrong, di teras atau ruang tamu rumah tersebut.

Rumah itu menjadi saksi titik berangkat Keenan Nasution, Gauri Nasution, Chrisye, Abadi Soesman, Guruh Soekarno Putera, Fariz RM, dan Eros Djarot. Yang pada kemudian hari namanya begitu masyur di Indonesia bahkan hingga sekarang. Grup band Gipsy atau yang kemudian dikenal sebagai Guruh Gipsy, Badai Band, hingga God Bless pun sempat merasakan dinginnya lantai rumah itu.

Memasuki dekade 90-an, Gang Potlot No.14 di Kalibata, Jakarta Selatan, menjadi rumah yang nyaris tak pernah sepi. Selain menjadi tempat bercokolnya grup musik rock Slank. Potlot menjadi tempat bermain dan berkesenian bagi Imanez (Alm.), Anang Hermansyah, Melanie Subono, BIP, Flowers, dan Oppie Andaresta. Sekumpulan anak muda yang kemudian dikenal luas sebagai musisi papan atas tanah air.

Gang dan tongkrongan memang kadangkala menjadi ajang mengasah talenta bermusik. Gitar memang menjadi instrument yang biasanya lebih dulu dijamaah di dalam tongkrongan. Di mulai dari mendalami gitar melalui tutorial teman yang mahfum lebih dulu. Dilanjut belajar sendiri dengan buku musik yang bisa dibeli di loper koran sebagai pemandunya.

Masing-masing tongkrongan biasanya mempunyai orang yang mahir memainkan gitar, atau biasa di sebut “Gitaris Tongkrongan”. Yang mampu membawakan banyak tembang popular di tengah kehangatan teman-temannya. Peran “Gitaris Tongkrongan” ibarat homeband di sebuah acara televisi ataupun kafe.

Bermusik di dalam gang atau di tongkrongan, meski kadang hanya sebatas penetralisir kejenuhan dari aktivitas yang serupa racun. Tak jarang, tongkrongan menjadi titik berangkat seorang musisi memulai lakonnya secara lebih serius. Gang Pegangsaan dan Gang Potlot bisa menjadi contoh bagaimana musisi dalam gang berubah menjadi sosok yang diidolakan banyak orang.

Di Gang Damai, Cagar Alam Depok sendiri baru menetas sebuah kelompok musik dalam gang, Oli Samping atau cukup disingkat saja menjadi OLSAM, pada pertengahan 2017. Berawal dari aktivitas nongkrong yang nyaris mendekati setiap hari, bernyanyikan lagu orang, hingga salah satu dari mereka menyadari potensi yang tersembunyi di balik masing-masing.

Adalah Zamal (gitar & vokal) yang memang lebih dulu berkecimpung di lingkaran komunitas musik bersama band punk rocknya, CBA dan sudah aktif sejak 2008. Yang kemudian melihat Rudibagol (gitar), teman tongkrongannya sendiri, memiliki kepiawan membawakan musik-musik dangdut. Tidak pikir panjang, mereka berdua saling berdiskusi tentang musik dan gitar. Hingga tercetuslah ide untuk membuat sebuah grup musik kampung dengan sentuhan dangdut. Ocan (tamborin & vokal) sebagai penggemar dangdut kemudian di tarik menjadi bagian. Sementara Jakul (gendang) yang lebih dulu terjun sebagai pemusik dangdut kampung dengan jam terbang manggung mumpuni, didaulat mengisi posisi penting.

OLSAM terbentuk begitu singkat, bukan saja dikarenakan mereka teman satu kampung dan sering nongkrong bareng. Keempatnya memiliki hobi yang sama yakni vespa dan juga menggemari lagu-lagu Indonesia lawas. Dalam beberapa kali briefing-nya, OLSAM membawakan Hamdan ATT, Rhoma Irama, Jamal Mirdad, bahkan sampai band Oi/Punk sekaliber Cock Sparrer dan band rock Oasis turut menjadi daftar yang akan dimainkan. Tentu jangan harap, semua lagu tersaji begitu saja, OLSAM telah meracik ulang sesuai dengan selera mereka.

Bahkan tak jarang aktivitas briefing yang dilakukan di teras rumah Zamal, mengundang para tetangga yang lewat. Sampai-sampai para petugas ronda-pun merasa terbantu dengan kehadiran mereka, maklum anak-anak OLSAM kalau sudah nongkrong kadang bisa sampai matahari muncul.

Suara Riang Dari Dalam Gang

Pada akhir Juli 2017 kemarin, OLSAM memutuskan untuk merekam satu buah lagu hasil ciptaan mereka. Berjudul “Pemuda Dalam Gang”, OLSAM seperti ingin membuat anthem bagi bandnya serta tongkrongannya sendiri.

“Dikala mulai senja gelap gulita tiada cahaya, bercanda dan tertawa,
Suara gendang memaksa pinggul untuk bergoyang, bersama pemusik dalem gang.”

Simak bagian refrain ini:

“Ini lagu dari dalem gang bersama sama kita berdendang.
Ini lagu hey asli Cagar Alam bersama sama nyok kita bergoyang.”

Karakteristik anak muda Depok yang mana sedikit banyaknya masih terpengaruhi oleh budaya Betawi, menjadi corak dalam lagu OLSAM. Di mana unsur pantun melekat di badan lirik, simak penggalan kalimat berikut ini:

“Asal kapas menjadi benang,
Benang ditenun menjadi kaen,
Orang yang lepas jangan dikenang,
Sudah menjadi siorang laen.

Beli duren beli bolu,
Metik paya di Jatiwaringin,
Dari kemaren kondangan mulu,
Kapan ya kite yang dikondangin.”

Pembawaan OLSAM dalam melafalkan lirik secara bergerombol, membuat suasana tongkrongan menjadi terasa. Begitu autentik, dengan rekaman yang diproses sesederhana mungkin. Benar-benar khas seperti sedang bergitar bersama teman-teman dan menyanyikan repertoir “Terlalu Manis”-nya Slank di dalam gang. Ranah vokal tidak tersentral pada satu orang, siapa saja yang tau lirik, berhak bernyanyi. Bukankah begitu budaya di tongkrongan ?

Tempo musik mereka yang santai, pemilihan riff yang mudah diterima, dengan lead yang nyaris tanpa jeda, lirik ringan dan begitu dekat dengan keseharian, di tambah dentum bass berpadu keajaiban tangan menabuh gendang. Membuat debut single OLSAM ini, mubazir untuk dilewatkan begitu saja tanpa goyangan.

“Kalo ada jarum yang patah jangan disimpen dalem peti,

kalo ada kata yang salah jangan disimpen dalem hati.”

OLSAM adalah potret tongkrongan dalam gang yang naik satu level. Dalam arti mereka bisa terlepas dari kebiasaan membawakan musik orang lain bahkan mencipta lagunya sendiri sekaligus merekam dan menyebarkannya.

Barangkali kehadiran OLSAM mampu menambah deretan nama gang yang menjadi saksi bagi titik berangkat musisi tersohor Indonesia.Semoga saja. Setelah Gang Pegangsaan, Gang Potlot, kemudian Gang Damai.

Dalam waktu dekat “Pemuda Dalam Gang” akan hadir dalam bentuk audio-visual yang akan digarap oleh Bimo ‘Elegi’. Serta mereka juga sedang siap-siap untuk mengadakan pesta peluncuran single tersebut yang belum tau kapan.[]

Le Money: Ketika Para Seniman Mengesampingkan Uang Demi Idealisme

Pond dan Segala Magisnya Siap Menyihir Jakarta

Jakarta Culinary Feastival Bergulir Mulai Kamis Ini

Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Lukisan Yang Dicoret

Photo Gallery: Magnitude Hammersonic 2017

Photo Gallery: Yellow Claw X Moet & Chandon