Pizza Truffle and Mushrooms

Selain sepakbola dan seni yang menjadi identitas dari Italia. Kulinerpun menjadi identitas lain bagi penduduk setempat. Derajatnya bukan lagi sebagai kebutuhan, melainkan kehidupan.

Sudah sejak lama makanan menjadi perekat persaudaraan di antara masyarakat Italia. Mereka terbiasa menghabiskan makanan secara bersama. Seorang kepala keluarga bisa marah, apabila ada salah satu anggota keluarganya yang absen. Saking pentingnya menikmati masakan bersama. Seperti kata salah satu pepatah klasik Italia, “a tavola non si invecchia (Di meja makan bersama keluarga dan teman, engkau tidak akan menjadi tua)”.

Angel Hair Aglio Olio E Peperoncino

Budaya tersebutlah yang sepertinya disadari betul oleh Pippo, salah satu restauran yang menyajikan beragam kuliner Italia di Senayan City. Pippo mencoba membuat tempatnya senyaman mungkin bagi semua usia. Benar saja, ketika saya menyambanginya, terlihat tamu yang datang bermacam-macam.

Selain dikenal sebagai bangsa yangsangat menghargai makanan, Italia juga memiliki tatacara makan yang rumit. Dalam satu pertemuan di atas meja makan, biasanya mereka akan memulainya dengan antipasto (pembuka), primi piatti (hidangan utama 1), secondi piatti (hidangan utama 2), dan dolce (penutup).

Sebab itu, saya tidak heran ketika pelayan Pippo menghidangkan roti di awal. Karena biasanya pada sesi antipasto roti kceil menjadi permulaan karena sifatnya yang tidak terlalu mengenyangkan. Adakalanya roti diganti dengan irisan tipis daging babi atau sapi serta potongan keju. Namun saya juga menikmati Italian Meatballs yang menjadi menu pembuka di Pippo.

Panna Cotta Al Caffe

Setelanya barulah saya menyantap nasi campur khas Italia, apalagi kalau bukan Risotto with Truflle and Mushrooms Sauce hadir sebagai menu primi piatti. Sejujurnya bagi orang nusantara yang terbiasa dengan ragam bumbu dalam satu masakan. Menikmati hidangan Italia yang memang berkarakter berbumbu sederhana, cukup janggal. Namun ini semua hanya masalah penyesuaian saja. Secara keseluruhan, saya menikmati risotto dari Pippo.

Masih sebagai menu utama pertama, saya menyantap juga Bucatini All’Amatriciana dan Angel Hair Aglio Olio E Peperoncino. Sebelum dijeda dengan Lasagna.

Karena saya tidak ingin terburu-buru di atas meja makan. Saya memilih sambil menikmati Lasagna, sebelum masuk ke menu utama kedua yang jauh lebih berat lagi.

Saya memutuskan untuk memilih Lamb Chopped sebagai santapan selanjutnya. Di sajikan bersamaan dengan greek yoghurt membuat saya merasakan pengalaman rasa yang menakjubkan. Saya juga menikmati hidangan pizza mereka yang tipis khas pizza daerah Roma (karena kalau pizza dari daerah Neapolitan dan Sisilia biasanya lebih tebal).

Sebagai pamungkas atau dolce, Salame Di Cioccolato, Tiramisu, Panna Cotta Al Caffe, dan ditambah dua scoop Gelato menjadi penutup sempurna. Sajian-sajian manis tersebut menyempurnakan citarasa di lidah saya.

Walaupun bisa dikatakan masakan Italia cenderung mudah di masak, lantaran pada dasarnya semua masakan di sana adalah racikan rumahan. Namun Pippo mencoba menyajikannya seotentik mungkin dengan sentuhan restoran yang tidak luput pada kualitas rasa.

O ya, di Pippo tersedia juga bar yang menyediakan beragam minuman mulai dari wine hingga beer. Mereka hanya ada di Senayan City, buka dari pukul 10 pagi hingga tengah malam. Datanglah dan nikmati salah satu bagian dari budaya Italia di sana.

Pameran Seni Tunggal Agus Kama Loedin “Trans-Forms #3”

ONE Championship Kembali ke Jakarta

WE THE FEST 2017 Siap Ramaikan Jakarta Agustus Nanti!

Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Lukisan Yang Dicoret

Photo Gallery: Magnitude Hammersonic 2017

Photo Gallery: Yellow Claw X Moet & Chandon