Abdur Rohim Latada aka Oyi. Seseorang dibalik Grow Rich. (dok. pribadi)

Grow Rich tidak akan pernah manggung. Terlebih lagi jangan mengharapkannya tampil membawakan “Cash to Kyodo” langsung di hadapanmu. Meskipun berbagai tawaran akan hal itu berdatangan, namun dengan berat hati harus ditolak. “Waktu saya sudah tidak memungkinkan untuk melakukan aktivitas manggung,” terang Abdur Rohim Latada atau akrab disapa Oyi, seseorang yang berdiri dibalik nama Grow Rich.

Kesibukannya sebagai staff digital content marketing sebuah media massa nasional, membuat waktu dan konsentrasinya tersita. Sehingga tidak lagi memungkinkan bagi dirinya memulai band dan menjalani berbagai aktivitas musik seperti dulu lagi.

Sebelum sekarang dikenal sebagai punggawa tunggal dari unit indie rock Grow Rich. Oyi malang melintang, jika bisa disebut menggegerkan scene hardcore Jakarta dan Indonesia dengan permainan crossover hardcorepunk nya yang beringas bersama Nervous Breakdown di awal 2000-an. Setelah band itu bubar jalan, Oyi membentuk kuartet new-wave Ultra Enigma yang nasibnya lebih buruk dari band sebelumnya, karena hanya bertahan dua tahun.

Kini, Oyi memilih untuk berjuang sendiri bersama Grow Rich yang didirikan pada Mei 2016 lalu. Sebuah upaya penyegaran diri dari rutinitas harian yang mendera dirinya. “Grow Rich adalah katarsis saya,” ujarnya.

Waktunya kini memang terbatas untuk urusan musik. Sehingga Oyi harus pintar menyiasati keadaan jika urusan musiknya tidak mau bentrok dengan aktivitas lainnya. Hal yang membuatnya tidak mungkin lagi tampil dalam format band. Lebih kerasan sendiri. “Sejak saya independen jadinya semua aktivitas dan progresifitas Grow Rich bisa diatur sendiri. Sesuai target yang saya tentukan tanpa bentrok dengan kewajiban dan tanggung jawab saya dalam hal lain,” ungkapnya.

Dibantu oleh Jati Xeno -kawan lamanya di Nervous Breakdown, sebagai penabuh drum, produksi materi pun dimulai. Selama November-Desember 2016, mereka saling berdiskusi. Materi gitar kasar yang dibawa Oyi, dipoles manis oleh Xeno sehingga terdengar rapih. Mereka saling menikmati proses penciptaan tersebut. Dan lalu, berbuah “Cash to Kyodo” yang rilis pada 20 April 2017. “Mungkin nama Jati Xeno bisa anda pertimbangkan. Jika anda sedang mencari seseorang yang handal untuk merekam karya musik buatan anda,” pesan Oyi.

Empat bulan kemudian, “Cash to Kyodo” berhasil menempati halaman pertama dalam mesin pencarian bandcamp untuk wilayah Jakarta dan Indonesia, berkat angka penjualannya pertanggal 18 Agustus.

Yang kemudian, dari hasil penjualannya didonasikan untuk korban badai Harvey di Amerika Serikat. Sebagai bentuk penerapan MSR (Music Social Responsibility). “Agama dan keluarga saya mengajari untuk bisa bersikap baik terhadap sesama,” jelasnya, yang menganggap MSR perlu dilakukan oleh setiap musisi.

***

H.R. dari Bad Brains mengungkapkan buku favoritnya ialah Think and Grow Rich karya Napoleon Hill. Hal tersebut terungkap, setelah Steven Blush memuatnya di dalam bukunya yang berjudul American Hardcore. Dari sanalah Oyi mulai mencari buku yang dibaca oleh H.R. “Ternyata isinya keren, tentang pengembangan diri untuk menjadi individu yang lebih baik dari sebelumnya,” paparnya.

Yang kemudian mengilhami dirinya untuk menamakan proyek solonya sama dengan buku itu. “Saya suka nama tersebut dan sesuai dengan cara pandang saya tentang konsep musik Grow Rich,” jelasnya.

Apabila diperhatikan, memang terjadi perubahan dalam riwayat bermusik Oyi. Nervous Breakdown terdengar begitu marah dan nyaris seperti kawanan kuda liar yang tak kenal batas. Ultra Enigma bermain dengan logika dan menyimpan sisi kepribadian yang gelap. Bersama Grow Rich, Oyi menjadi tenang dan nampak ceria. “Semakin bertambah umur manusia. Semakin dewasa cara dia melihat dan menyikapi kehidupan. Saya rasa hal yang sama berlaku juga untuk kreatifitas musikal saya di Grow Rich,” ujarnya.

Lagu “Cash to Kyodo” menyajikan musik yang riang dengan balutan indie rock dan berbagai sentuhan genre musik lainnya. Tentu dengan tema lirik yang lebih personal dan mengajak orang untuk merenungi soal kerumitan manusia yang selalu berada di persimpangan antara kemauan dan keraguan; antara maju, berdiam diri, atau mundur. “Lirik saya meski lugas namun menyimpan banyak subtle yang terbuka untuk diinterpretasikan secara bebas,”akunya. “Cocok untuk mereka yang suka berpikir lepas.”

Dalam proses penggarapan “Cash to Kyodo” Oyi harus berlaku keras pada dirinya sendiri, untuk tidak mendengarkan musik kegemarannya selama masa produksi. Otomatis tidak ada punk rock dan sejenisnya. Perbulan Agustus hingga Oktober 2016, telinganya dijejali musik The Grateful Dead, Uriah Heep, psikedelia rock 70an yang didapatkan secara acak, dan serial televisi yang sejatinya bukanlah seleranya.

Selain itu “Cash to Kyodo” dimulai dari sebuah gitar yang tidak lengkap senarnya. Oyi sengaja melakukan hal tersebut, karena memudahkannya. “Semakin lengkap (Senarnya), semakin susah untuk saya menentukan fokus arah yang akan saya tuju. Jadi saya sedikitkan pilihan menjadi hanya senar 4, 5, dan 6 dari situ saya bisa membangun pondasi,” ujarnya.

Hasilnya ? Cukup memuaskan baginya. Dua media alternatif dari Kanada dan Australia langsung membuat ulasan dan wawancara di websitenya masing-masing. Untuk dalam negeri sendiri, Tempo yang turun tangan menuliskan beberapa kata tentang lagu tersebut.

Bahkan selama perjalanan karir musiknya, hanya “Cash to Kyodo” mendapatkan tempat di telinga keluarganya. “Sepupu, Ibu, dan Abang saya suka sama musiknya Grow Rich di lagu “Cash to Kyodo”. Saya tidak tau opini mereka untuk lagu yang lain,” terangnya. []

Pameran Seni Tunggal Agus Kama Loedin “Trans-Forms #3”

ONE Championship Kembali ke Jakarta

WE THE FEST 2017 Siap Ramaikan Jakarta Agustus Nanti!

Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Lukisan Yang Dicoret

Photo Gallery: Magnitude Hammersonic 2017

Photo Gallery: Yellow Claw X Moet & Chandon