Cabang olahraga bola basket masih menjadi eksklusif dan kalah pamor di Indonesia. Tidak seperti sepakbola. Maka dari itu Azrul Ananda selaku founder sekaligus Presiden Direktur DBL Indonesia berupaya menjadikannya inklusif.

Pengalaman Azrul selama menangani Honda Developmental Basketball League serta Junio Junior Basketball League di 25 kota, 22 provinsi, dari Aceh hingga Papua. Memberikan fakta unik padanya yang masih menghambat laju perkembangan cabang olah raga asal Amerika Serikat satu ini.

“kami menemukan barrier demi barrier yang menghalangi semakin banyak anak untuk bisa bermain basket. Yang paling menghalangi ternyata adalah sepatu,” ujarnya.

Karena kesulitan mengakses sepatu berkualitas tinggi, banyak anak muda Indonesia yang sehari-hari nekat bermain basket telanjang kaki. Dengan segala risikonya. Dan yang paling menyedihkan, sangat sering dijumpai anak bermain basket dengan menggunakan sepatu palsu. Padahal, belum tentu ada jaminan kualitas dan keamanannya.

Tidak sedikit pula anak yang cedera karena masalah sepatu itu. Misalnya, cedera engkel parah karena orang tuanya memaksakan beli sepatu yang kebesaran. Tentu untuk alasan ekonomis, supaya tidak perlu beli sepatu lagi hingga nanti kekecilan.

Atau, anak itu cedera karena ”sepatu basket bagusnya” hanya dipakai saat pertandingan. Ketika latihan, dia menggunakan sepatu lari atau yang lain, dan itu mengakibatkan cedera. Semua permasalahan itu paling terasa di kota-kota kecil atau di kota-kota di luar Pulau Jawa.

“Kami percaya, untuk basket bisa berkembang, harus meningkatkan partisipasi. Nantinya, partisipasi itulah yang akan menghasilkan dan membiayai prestasi. Sepatu ini kami dedikasikan bagi pemain basket di seluruh Indonesia, seluruh lapisan masyarakat, diciptakan untuk menghilangkan segala batasan yang bisa menghalangi seseorang mewujudkan impiannya bermain bola basket,” tambah Azrul yang telah 13 tahun menggeluti perbasketan nasional.

Mengusung niat baik memacu anak muda mewujudkan mimpinya bermain basket, sepatu DBL menunjuk pebasket muda Indonesia Abraham Damar Grahita sebagai ambassador-nya. Abraham adalah pebasket yang namanya semakin bersinar setelah ikut dalam timnas SEA Games 2017 dan berhasil membawa pulang medali perak. Abraham dipilih karena dapat menginspirasi anak muda di Indonesia untuk bekerja keras menggapai mimpi.

“Saya besar dan bermain basket dari Bangka Belitung. Jadi, saya tahu betul bagaimana kami di daerah kesulitan mendapatkan fasilitas olahraga yang baik. Sepatu basket pun sulit dijangkau. Saya berharap sepatu basket DBL akan membantu memotivasi teman-teman anak muda di daerah untuk terus mewujudkan mimpinya, khususnya di bidang basket,” cerita Abraham. “Kalau saya bisa, siapapun pasti bisa. Asalkan ada niat dan kerja keras,” pesannya.

DBL Indonesia dan produsen sepatu terbesar Indonesia Ardiles berkolaborasi meluncurkan lima seri sepatu basket. Sepatu basket DBL edisi perdana hadir dalam tiga tipe dan lima varian warna. Yang pertama tipe Fundamental yang tersedia dalam pilihan warna Bred (hitam-merah) dan Chicago (hitam-merah-putih). Berikutnya tipe Pride dalam variasi warna Navy-Yellow dan Chicago (hitam-merah-putih). Sedangkan tipe yang ketiga dibuat secara spesial. Menjadi lebih menarik dan wajib dikoleksi karena dibubuhkan tanda tangan Azrul Ananda di sisi luar sepatu dan diberi nama AZA 5 serta hadir dalam warna Black-Yellow.

Homeshake Akan Menyambangi Jakarta Pada Januari 2018!

Le Money: Ketika Para Seniman Mengesampingkan Uang Demi Idealisme

Pond dan Segala Magisnya Siap Menyihir Jakarta

Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Lukisan Yang Dicoret

Photo Gallery: Magnitude Hammersonic 2017

Photo Gallery: Yellow Claw X Moet & Chandon