The future is a manufactured coziness that lacks actual human touch. At least, hal itulah yang ada dalam serial Netflix berjudul “Black Mirror”. Telah berjalan sejak tahun 2011, Black Mirror yang diciptakan oleh visioner Charlie Brooker. Sejak episode pertama berjudul “The National Anthem” yang melibatkan adegan Prime Minister dalam adegan tidak senonoh dengan seekor babi, Black Mirror langsung mengejutkan dunia. Gelap, penuh pesan, berbobot, serta berisi twist yang membuat orang bergumam “Oh, f*ck!” pada dirinya sendiri adalah cara Brooker memperluas popularitasnya di Inggris dan memperkenalkan dirinya dengan sesuatu yang lebih fenomenal ke seluruh dunia.

Seperti yang sudah disebutkan, Brooker bukanlah sosok yang asing di dunia show business di Inggris.

Charlie Brooker. (Little White Lies)

Sebelum Black Mirror, Brooker terkenal dengan beberapa acara TV seperti 10 O’Clock Live yang juga dibawakan bersama bintang dari salah satu serial TV terbesar di Inggris berjudul Peep Show, David Mitchell. Selain itu, Brooker juga terkenal dengan Charlie Brooker’s Wipe, sebuah satir yang membahas berita-berita penting di dunia dengan edisi mingguan dan tahunan.

Hingga akhirnya, tibalah Black Mirror.

Pada season pertama, Black Mirror menyentil tiga hal dalam tiga episode berbeda. Jika episode pertama membahas tentang dilema sang Prime Minister, episode ketiga sendiri mengajak para penontonnya untuk memikirkan kebaikan dan keburukan sebuah device yang memungkinkan penggunanya untuk mengingat semua hal yang pernah dialami. Episode kedua, dibintangi oleh Daniel Kaluuya yang memegang peran utama di film “Get Out”, adalah sebuah gambaran perjuangan yang diakhiri dengan penghianatan dengan tema yang futuristik namun tidak terlihat asing.

Penjelasan tentang efek negatif dari kemampuan untuk membangkitkan seseorang yang telah tiada muncul di season kedua dalam episode “Be Right Back”, sedangkan “White Bear” yang membahas dosa seseorang yang dijadikan objek utama sebuah theme park hadir dalam episode kedua. Tidak lupa juga ketegangan dunia politik yang disulut dengan kehadiran karakter kartun dalam “The Waldo Moment”. Season kedua sendiri memiliki episode bonus berjudul “White Christmas” yang dibintangi oleh Jon Hamm, mungkin cocok untuk ditonton kembali saat Natal tiba bagi para penggemar sci-fi thriller.

Season ketiga menandakan bergabungnya Black Mirror ke Netflix dengan kehadiran enam episode sekaligus. Selain “Nosedive” yang mengangkat tema rating system yang sangat familiar dengan kehidupan modern selama beberapa tahun terakhir, episode berjudul “San Junipero” menghadirkan sesuatu yang lebih hangat dibandingkan episode lainnya. “San Junipero” banyak dipuji dari temanya yang sangat 80’s dan plot ceritanya yang sangat berbeda dengan hampir semua episode di Black Mirror. Oh, selain kedua episode tersebut, siapa yang bisa lupa dengan sentilan terhadap kecanggihan dunia video game dalam episode “Playtest” dan bahaya privacy yang juga menyinggung pedofilia dalam episode “Shut Up and Dance”?

Dari semua rangkuman episode di atas, Black Mirror memiliki plot yang cukup jelas dan pattern yang tidak berbeda jauh antara satu episode dan episode lainnya; kecanggihan teknologi dan pola sosial manusia dalam Black Mirror terlihat tidak jauh dari masa sekarang. Bukan tidak mungkin hal-hal yang pernah terjadi di Black Mirror akan atau bahkan pernah terjadi di dunia nyata. Lihat saja apa yang mereka lakukan ketika Apple mengumumkan iPhone X, Black Mirror melakukan referensi The Waldo Moment yang kuat sebagai respon atas kehadiran iPhone X. Ternyata bukan hanya The Simpsons, Black Mirror juga cukup akurat dalam memprediksi masa depan. Tidak heran jika New Yorker menyebut Black Mirror sebagai ‘Twilight Zone for the digital age’.

Season terbaru Black Mirror saat ini sedang sangat dinantikan. Membawa enam cerita baru, Black Mirror season 4 akan ditayangkan pada 29 Desember ini.

Homeshake Akan Menyambangi Jakarta Pada Januari 2018!

Le Money: Ketika Para Seniman Mengesampingkan Uang Demi Idealisme

Pond dan Segala Magisnya Siap Menyihir Jakarta

Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Lukisan Yang Dicoret

Photo Gallery: Magnitude Hammersonic 2017

Photo Gallery: Yellow Claw X Moet & Chandon