Black Mirror Netflix
Entertainment Film & TV
Depresi Artistik Ciptaan Black Mirror

By Haetam Attamimy

Published on: 2018/01/09 10:24

The future is a manufactured coziness that lacks human touch. At least, hal itulah yang ada dalam serial Netflix berjudul “Black Mirror”. Telah berjalan sejak tahun 2011, Black Mirror yang diciptakan oleh visioner Charlie Brooker. Sejak episode pertama berjudul “The National Anthem” yang melibatkan adegan Prime Minister dalam adegan tidak senonoh dengan seekor babi langsung mengejutkan dunia. Gelap, penuh pesan, berbobot, serta berisi twist yang membuat orang bergumam “Oh, f*ck!” adalah cara Brooker memperluas popularitasnya di Inggris dan memperkenalkan dirinya dengan sesuatu yang lebih fenomenal ke seluruh dunia. Seperti yang sudah disebutkan, Brooker bukanlah sosok yang asing di dunia show business di Inggris.

Sebelum Black Mirror, Brooker terkenal dengan beberapa acara TV seperti "10 O’Clock Live" yang juga dibawakan bersama bintang dari salah satu serial TV terbesar di Inggris berjudul "Peep Show", David Mitchell. Selain itu, Brooker juga terkenal dengan "Charlie Brooker’s Wipe", sebuah satir yang membahas berita-berita penting di dunia dengan edisi mingguan dan tahunan. Hingga akhirnya, tibalah "Black Mirror".

Pada season pertama, "Black Mirror" menyentil tiga hal dalam tiga episode berbeda. Jika episode pertama membahas tentang dilema sang Prime Minister, episode ketiga sendiri mengajak para penontonnya untuk memikirkan kebaikan dan keburukan sebuah device yang memungkinkan penggunanya untuk mengingat semua hal yang pernah dialami. Episode kedua, dibintangi oleh Daniel Kaluuya yang memegang peran utama di film “Get Out”, adalah sebuah gambaran perjuangan yang diakhiri dengan penghianatan dengan tema yang futuristik namun tidak terlihat asing.

 

Penjelasan tentang efek negatif dari kemampuan untuk membangkitkan seseorang yang telah tiada muncul di season kedua, sedangkan “White Bear” yang membahas dosa seseorang yang dijadikan objek utama sebuah theme park hadir dalam episode kedua. Tidak lupa juga ketegangan dunia politik yang disulut dengan kehadiran karakter kartun dalam “The Waldo Moment”. Season kedua sendiri memiliki episode bonus berjudul “White Christmas” yang dibintangi oleh Jon Hamm, mungkin cocok untuk ditonton kembali saat Natal tiba bagi para penggemar sci-fi thriller.

Season ketiga menandakan bergabungnya "Black Mirror" ke Netflix dengan kehadiran enam episode sekaligus. Selain “Nosedive” yang mengangkat tema rating system yang sangat familiar dengan kehidupan modern selama beberapa tahun terakhir, episode berjudul “San Junipero” menghadirkan sesuatu yang lebih hangat dibandingkan episode lainnya. “San Junipero” banyak dipuji dari temanya yang sangat 80’s dan plot ceritanya yang sangat berbeda dengan hampir semua episode di "Black Mirror". Oh, selain kedua episode tersebut, siapa yang bisa lupa dengan sentilan terhadap kecanggihan dunia video game dalam episode “Playtest” dan bahaya privacy yang juga menyinggung pedofilia dalam episode “Shut Up and Dance”?

Dari semua rangkuman cerita di atas, "Black Mirror" memiliki plot yang cukup jelas dan pattern yang tidak berbeda jauh antara satu episode dan episode lainnya; kecanggihan teknologi dan pola sosial manusia terlihat tidak jauh dari masa sekarang. Bukan tidak mungkin hal-hal yang pernah terjadi di "Black Mirror" akan atau bahkan pernah terjadi di dunia nyata. Lihat saja apa yang mereka lakukan ketika Apple mengumumkan iPhone X, "Black Mirror" melakukan referensi "The Waldo Moment" yang kuat sebagai respon atas kehadiran iPhone X.

Season terbaru "Black Mirror" saat ini sedang sangat dinantikan. Membawa enam cerita baru, "Black Mirror" season 4 telah tayang dan mengguncang dunia sejak akhir Desember 2017 lalu.

Bagikan Artikel
Artikel Terkait

Jack Black Berseteru Dengan Thor: Ragnarok

Jack Black Berseteru Dengan Thor: Ragnarok

By: Haetam Attamimy

Baca selengkapnya

The Florida Project Adalah Percikan Kebahagiaan Dalam Kemisk...

Kesederhanaan The Florida Project adalah hal yang membuat film ini menjadi salah satu film terbaik d...

By: Haetam Attamimy

Baca selengkapnya

Review: Wolfstein 2: The New Colossus

Video game Wolfstein 2: The New Colossus memang sangat dinantikan tahun ini.

By: Haetam Attamimy

Baca selengkapnya
Loading…